ARISAN
ILK,
6 Juni 2014
Setiap perempuan biasanya pernah ikut arisan. Dari remaja hingga nenek-nenek. Kalau remaja arisannya cukup Rp 5,000 - Rp 10,000,- sesuai uang jajan dari orang tua. Seminggu sekali dikocok di rumah teman atau di kelas.
Yang berumur 25 th - 55 th yang sudah berkeluarga dan bekerja, umumya ikut arisan di berbagai tempat. Bisa di rumah; arisan RT/RW, di kantor atau pada acara kumpul keluarga. Uang arisannya bisa dimulai dari Rp 25,000,- - Rp 100.000,- bahkan lebih.
Ada lagi arisan berupa barang, dari alat rumah tangga, perhiasan, hewan qurban, pakaian, handphone, dsb. Juga arisan yang siapa butuh bisa bayar lebih besar dan namanya keluar sebagai penerima uuang arisan tanpa harus dikocok lagi.
Arisan yang lebih besar dengan produk yang lebih menghanyutkan juga ada. Kabar-kabarnya arisan yang bisa membuat rumah tangga sedikit bergoyang karenanya. Apakah karena menguras belanja dapur atau memicu prahara tempat tidur.
Apa sih sebetulnya tujuan arisan itu awalnya ? Selain untuk silaturahmi, uang arisan berfungsi sebagai tabungan dan jaga-jaga bila ada situasi darurat dalam rumah tangga. Misalnya; anak sakit dan harus diopname, keperluan membeli alat rumah tangga atau merenovasi rumah.
Semakin berkembangnya jaman dan makin besarnya uang arisan, tujuan melebar tidak hanya untuk mengatasi kondisi darurat saja. Piknik akhir tahun, sebagai tambahan untuk membeli kendaraan, membeli gadget untuk si sulung, dll.
Makin luas lagi, yang ini lebih ke arah sosialita. Tambah besar uang arisan yang dipertaruhkan, tambah besar budget untuk konsumsi dan tempat diadakannya arisan. Bisa di atas pesawat jet pribadi dan berakhir di sebuah resort mewah di Hongkong atau Macao. Atau di sebuah villa di Puncak atau Bali... Gengsi dan gaya hidup menjadi harga pasti bagi para anggotanya.
Kalau sudah begini, dampak yang terjadi pada anggota arisan dan keluarganya atau karir bisa goncang. Karena tuntutan gaya hidup hedonis membuat para suami sakit kepala dan anak-anak dikorbankan kualitas komunikasi antara orangtua dan anak, Uang belanja yang terkuras dan tak jarang keutuhan rumah tangga dijadikan taruhan. Karena kebutuhan sang istri ketika pergi arisan bukanlah harga yang murah. Pakaian, assesoris, sepatu, tas dan uang saku yang tentunya tidak boleh kalah dari anggota arisan yang lain.
Tujuan diadakannya arisan menjadi abu-abu dan bahkan buram sama sekali.
Namun demikianlah kenyataan di sekitar kita. Dinikmati saja gelombang hidup yang terjadi, karena setiap kita punya latar belakang dan gaya hidup yang berbeda.
Hebohnya arisan, barang yang bisa diperoleh, bertambahnya teman, dan berkembangnya wawasan tiap anggotanya merupakan keuntungan yang membuat para anggota arisan tak jemu untuk arisan lagi dan lagi dan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar